Jumat, 20 September 2019

Dear Indonesia,

 Indonesia. Sudah sering terdengar, sudah terekspor dan tersohor di setiap sudut dunia. Indonesia yang dulu terkenal dengan keindahan alamnya. Indonesia yang dulu terkenal dengan seni budaya. Indonesia, yang dulu terkenal dengan sikap dan etika. Sekarang, apa masih bisa untuk dibanggakan di seluruh dunia?



Indonesia, negara dengan 17.504 pulau, yang di setiap pulaunya memeiliki ratusan bahkan ribuan destinasi alam ataupun wisata yang indah. Negara dengan 300 lebih suku, ratusan adat dan seni budaya, serta ratusan kearifan lokal pula. Negara yang dulu di banggakan, diperjuangkan, diperebutkan.

Sekarang, di mana Indoneisa ‘kita’? Di mana Indonesia yang dulu ramah, yang dulu baik, yang dulu setiap masyarakatnya mempertahankan adat istiadat, juga kesadaran tentang kebersihan?

Bukan, tulisan ini bukan untuk Indonesia. Tulisan ini untuk “Masyarakat Indonesia”.  Indonesia, hanya akan menjadi sebuah ‘nama’, tanpa ada insan yang mau menjadi nyawa, yang mau menghidupkan, yang mau memajukan. Indonesia dulu memiliki nyawa yang jernih, jiwa yang tegas, dan hati yang penuh akan kesadaran. Namun sekarang, ketiganya sudah tercemar. Ditambah dengan akal yang sudah ikut ternodai nafsu dan zaman. Lengkap sudah.

 
 Nyawa, jiwa, dan hati Indonesia. Nyawa yang kini sudah tak suci. Banyak sekali koruptor, banyak sekali pemerintah yang bahkan tak amanah dengan janjinya. Jiwa mereka sudah tergangggu. Hanya ingin kekuasaan, harta, dan kenikmatan untuk dirinya sendiri, sebut saja egois. Tak memikirkan masyarakat yang terus diperintah, mereka terus saja memerintah. Tapi, ini juga bukan sepenuhnya salah mereka. Itu juga salah pemuda-pemudi Indonesia.

Kemana anak bangsa yang dulu sering mengharumkan negeri? Kalau dicari, mungkin hanya sepersekian orang yang bisa di temukan, sedangkan yang lain sibuk merokok, dan mengonsumsi narkotika. Tidak semua memang, namun apakah yang lainnya juga memiliki jiwa kesadaran untuk memajukan Indonesia? Menyadarkan mereka yang sudah tercemar narkoba dan zat haram lainnya?

Mereka mungkin memiliki kesadaran, mereka punya inspirasi.  Tapi tidak dengan melaksanakan aksi. Mereka yang hanya sibuk duduk di belakang meja pelajar, lalu keluar kelas untuk menghabiskan masa muda mereka. Mengikuti trend zaman, dan berbangga atas budaya orang lain. Mereka mungkin juga belajar tengtang budaya mereka sendiri, tapi mereka hanya menggunakan ‘topeng bangga’-nya di dalam kelas. Lalu menggerutu dengan tugas seni budaya yang begitu banyaknya. Ikhlas? Tentu saja tidak.

Kemana janji sumpah pemuda itu dilarikan? Pemuda-pemudi yang seharusnya bisa memajukan bangsa, namun kini malah sibuk dengan diri masing-masing. Kemana pemerintah yang seharusnya menengahi? Namun nyatanya sibuk memejamkan mata dalam sidang untuk negara. Tak salah jika Iwan Fals pernah berkata dalam lantunan musiknya, “Wakil rakyat, seharusnya merakyat. Namun tidur saat sidang soal rakyat.”


Ini bukan tulisan hunusan, ini hanya satu dari sekian banyak permohonan, dari seorang remaja seperti saya. Mungkin belum mengerti apa-apa, namun tau, seberapa ‘berkendala’-nya Indonesia jika terus-menerus seperti ini. Tulisan ini bukan untuk menghujat, namun untuk saling mengingatkan. Bahwa Indonesia, adalah milik kita bersama. Dimana saat kita yang menjadi nyawa, jiwa, hati, dan pikirannya, berarti kita memiliki tanggung jawab untuk memajukan ‘raga’ dan namanya. Indonesia.

Kesadaran. Hal seremeh itupun, jika bisa tertanam didiri setiap insan Indonesia, maka itu sudah membantu Indonesia. Kesadaran terhadap negara yang kita tinggali, kesadaran akan tanggung jawab, dan kesdaran akan  setiap hal yang kita kerjakan. Ini memang tidak semudah kita mengucapkan dan menuliskannnya. Tapi, apakah salah untuk mencoba dan melihat hasilnya?


-Teruntuk INDONESIA dan SEISINYA. MARI MERDEKAKAN BANGSA :)

-Amy Aulia

1 komentar: