Sabtu, 23 Maret 2019

24/26280 Jam di dalam Madrasah Berasrama

Usia 13, 14, atau 15 tahun itu usia transisi anak-anak menuju remaja. Usia segitu sih ya, kita pada lagi pengen-pengennya buat main sama temen komplek rumah, hangout bareng temen-temen sekolah, atau mungkin nikmatin waktu senggang sama keluarga. Itulah sebabnya, tak semua anak muda zaman sekarang mau melewatkan masa-masa transisi ini untuk bersekolah di "Madrasah Berasrama". 

Dan ya, disinilah tempat saya memulai 'masa transisi' itu. Mencari 'jati diri' dengan cara yang berbeda. Kata 'madrasah' memang sudah tak asing ditelinga kita, yang beragama islam terutama. Tapi tidak dengan "Madrasah Berasrama". Bukan. Ini bukan pondok. Ini adalah sebuah tempat. Tempat yang tak ada peraturan seberat 'pondok' pada umumnya. Disini, kami, bebas berekspresi. Menekuni minat bakat, memperdalam ilmu, juga memperluas jaringan persaudaraan.



Madrasah Tsanawiyah Alam Sayang Ibu. MSI, begitu kami, termasuk saya menyebutkannya. Kehidupan kami sehari-hari, terutama saya memang padat. Tapi itu seakan tak terasa. Waktu berlalu begitu cepat. Kepadatan hari sudah menjadi rutinitas yang sudah saya nikmati.
Rutinitas pagi kami mulai pada jam 04.00 dini hari sampai pada pukul 07.30 WITA. Paket 1 lengkap plus sarapan yang dan sholat dhuha. Kegiatan belajar mulai pada pukul delapan tepat sampai pukul dua belas. Dilanjutkan dengan kegiatan makan siang, program “Diary Al-Qur’an” dan istirahat siang. Sore diisi dengan project angkatan dan ekskul. Sedangkan kegiatan malam, diisi dengan kegiatan tahfiz dan pelajaran malam seperti “Pizza Before Bed” atau “Thibbun Nabawi”. Kelas literasi, juga kesehatan.

Sekilas memang terlihat membosankan, menjenuhkan. But, I don’t think so. It’s not as bored as that for me. Kenapa? Karena saya tidak ‘hidup’ sendiri disana. I have lots of funny people around me. Tak peduli dari seberapa terpandaangnya keluargamu sebelumnya, saat kamu sudah memutuskan untuk menetap di ‘Madrasah Berasrama’, semua nampak sama rata. Hidup dalam satu lingkungan, satu sekolah, satu asrama, bahkan satu kamar yang sama.

Dalam kehidupan berasrama, tak ada lagi sikap individualis yang tersisa. Kami bersatu, bersama. Selalu ada hal berbeda yang mengisi tiap harinya. Keseruan, kehangatan, bahkan kesedihan sekalipun kami bagi bersama. Terdengar biasa memang. Tapi bagi kami, ini tidak biasa saja. Bagi saya terutama.

For me, tiga tahun tsanawiyah disini lebih mengesankan daripada enam tahun di sekolah dasar pada umumnya. Baik itu swasta ataupun negeri. Why? Ya, karena alasan tadi. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, hari-hari kita selalu diisi sama mereka. Tak hanya teman, guru juga sudah menjadi kakak ataupun orangtua kami. Saking kami menganggapnya sebagai ‘kakak’, kami dapat bertukar pendapat maupun usulan sekalipun. Madrasah ini memang tidak memisahkan antara putra dan putri. Membiarkan kami bereksplorasi di masa muda kami.

Tak hanya itu, bahkan karena kebersamaan itu juga, teman angkatan sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Kakak kelas kami anggap seperti kakak yang mudah bisa menjadi teman curhat dan mencari solusi karena sudah lebih ‘dewasa’. Adik kelas ya, sudah seperti adik yang kami rawat.
Kini saya duduk dibangku kelas delapan tsanawiyah. Menjabat sebagai pengurus OSIS sekolah yang kami sebut OSSI (Organisasi Siswa Sayang Ibu). Mengontrol dan mengurus seluruh kegiatan sekolah. Membantu madrasah mewujudkan visi dan misinya. Banyak masalah yang kami hadapi. Tapi, kami selalu berusaha berubah menjadi pribadi atau angkatan yang lebih baik dari sebelumnya. Terus memperbaiki diri.

Nama angkatan saya “Takmilatul Alam”. Dalam bahasa Indonesia, artinya “Pelengkap Dunia”. Karena kami adalah angkatan ketiga, yang melengkapi generasi pertama MSI. Kami memnyebut diri kami itu “Anak Samalas”, dengan yel-yel “Try To Shock The World”. Banyak yang bilang kami Anak Lindur yang dalam bahasa Indonesia, artinya ‘anak gempa’.   Hahaha.
                                     THIS IS US.

Hidup dalam madrasah berasrama memang jauh dalam life goals generasi milenial yang terlalu terobsesi dengan kehidupan pada umumnya. Let say that they don't want to take a little challenge, keluar dari 'zona nyaman' mereka. Hidup kami memang jauh dalam kehidupan umum pada usia transisi. Tapi kami bahkan sudah memiliki plan untuk hidup yang jauh lebih indah nantinya :) . Setiap orang memiliki plan hidupnya masing-masing. Life starts with B, "Birth" and end with D, "Death". And between B and D there's C. Choices. 'Cause life is also a choice. Your life filled with those choices, bro!Ini bukan promosi. Ini hanya sekedar berbagi :)  Enjoy ur life! -Amy Aulia




1 komentar: